Jumat, 13 Januari 2017

David Easton; Aanalisis Sistem Politik, Teori Politik

[1]TEORI

1.      Davi Easton, Analisis Sistem Politik

Analisis sistem politik[2].
Dalam artikelnya yang terkenal ini Profersor Easton mengusulkan suatu metode untuk menganalisis berbagai sistem politik. Yaitu dengan menelaah sistem – sitem politik berdasarkan ciri-ciri dasar seperti: (1) unit –unit yan membentuk sistem itu dan luasnya batas – bastas pengaruh sistem itu, (2) “input” dan “output” dari sistem yang tercermin dalam keputusan – keputusan ynag dibuat (output) dan proses pembuatan keputusan (imput) diadalam sistem tersebut, (3) jenis dan tingkatan diferensisai dalam sistem tersebut, dan (4) tingkat intregasi sistem politik yang mencerminkan tingkat efesiensinya. Dalam menganalisa berbagai kompnen ini Profesor Easton menawarkan kepada kita suatu metode untuk memmahami dan memperbandingkan berbagai sistem politik.

I.                    Beberapa ciri sistem politik
      Studi politik berusaha memahami bagaimana keputusan2 yang otoritatif atau sah dibuat dan dilaksanakan dalam suatu masyarakat. kita dpat berusaha memehaimi kehidupan politik dengan melihat segi2nya astupersatu. Lita bisa menyelidiki fungsinya lembaga2 politik seperti manipulasi, propaganda, dan kekerasan. Kita dapat meneliti struktur empat terjadinay praktek2.ini. dan dengan menggabungkn hasil2 penyelidikan itu kita memperoleh suatu gambaran kasar tentangg apa yang terjadi dalam setiap unit politik.
      Dalam menggabungkan hasil2 penyelidikan itu secara implisit terkandung pengertian bahwa masing2 bagian dari area politik ynag lebih besar itu tidak berdiri sebdiri2 tetapi saling bekaitan satu-sama lainya, atu tegasnya , bahwa berfungsi satu bagian tidak akan dapat dipahami sepenuhnya tanpa memperhatikan cara berfungsinya keseluruhan bagian2 itu sendiri. Telah saya sebutkan dalam buku saya The Political System, bahwa sangat penting untuk menerapkan asusmsi implisit ini sebagai pangkal tolak berfikir dalam melaksanakan penelitian , dan untuk memandang kehidupan politik sebagai suatu sistem kegiatan2 yang saling berkaitan.
      Sekali kita membahas kehidupan politik sebagai suatu sistem kegiatan, maka timbul beberapa konsekuensi dalam hal cara yang dapat kita pakai untuk menganalisa bekerjanya suatu sistem. Ide utama dalam suatu sistem menyatakan bahwa kita dapat memisahkan kehidupan politik dari kegiatan sosial lainya, paling tidak demi tujuan analisa, dan melihatnya seolah2 segai suatu kumulan tersendiri yang dikelilingi oleh, tetapi dapat dibedakan dnegan mudah dari, lingkungan didalam mana ia bekerja. Seperti halnya ahli astroonomi yang menganggap sistem tata surya sebagai kejadian yang kompeleks yang demi tujuan tertentu dipisahkan dari kehidupan jagad-raya lainya.
      Selanjutnya, bila kita berpegang pada anggapan bahwa sistem tingkah laku politik merupakan suatu unit tersendiri, maka akan terlihat bahwa ynag menjamin terus bekerjanya sistem itu adalah berbagaimacam imput. Imput2 ini dibuat oleh proses2 yang terjadi didalam sistem itumenjdadi output dan selanjutnya output2 ini menimbulkan pengaruh terhadp sistem itu sendiri maupun terhadp lingkungn diman sistem itu berada. Rumusan ini sngt sederhana tetapi juga cukup memadai untuk menjelsakan berbagi hal: imput – sistem atau proses politik – output. Rumus ini bisa dipakai sebagai pendekkatan dlam mempelajari kehidupan politik.
      Sebagai suatu sistem , tentu sistem politikk memiliki ciri2 tertentu . untuk memberikan gambaran ynag menyeluruh tentang pendekatna ini, saya akan menunjukkan lebih dahulu ciri2 utamanya dengan keternagn sekedarnya.
1.      Ciri2 Identifikasi.
            Untuk membedakan suatu sistem politik dari sistem2 sosial lainya, kita harus bisa mengidentifikasinya dengan menggambarkan unit2 dasarnya dan membuat garis batas yang memisahkan unit2 itu dari unit2 yang ada di luar sistem politik itu.
a.       Unit2 sistem politik.
      Unit2 adalah unsur2 yang membentuk suatu sistem. Dalam sistem politik, unit2 ini berwujud tindakan2 yang menbentuk perana2 politik dan kelompok2 politik.
b.      Perbatasan.
      Beberapa dari pertanyaan yang paling penting berkenaan dnegn fungsi sistem politik hanya dapat dijawab  bila kita memahami fakta bahwa suatu sistem selalu berada dalam atau dikelilingi oleh lingkungan berupa sistem2 lain,. Tidak ada sistem yang hidup dalam lingkungan yang kosong. Cara berfungsiya suatu sistem sebagian merupakan perwujudan dari upaya untuk menanggapi keseluruhan  lingkungan sosial, biologis, dan fisiknya.
      Maslah khusus yang kita hadapi adalah bagaimana membedakan secara siste matik anatara suatu sistem politik dengan lingkungnya. Namun tidak usah terlalu bingung, yang dimaksud dengan yang termasuk dlam sistem politik adala semua tindakan yang lebih kurang langsung berkaitan dengan pembutan keputusan2 yang mengikkat asyarakat, dan setiap tindakan sosail yang tidak mengandung ciri tersebut tidak termsuk dalam sistem politik, sehingga secara otomatis akan dipandang sebagai variabel eksternal di dalam lingkungan sistem tersebut.

2.      Input Dan Output.
            Bisa dipastikan bahwa bila kita memilih sistem politik sebagai saasaran studi kasus, kita melakukan itu karena kita percaya bahwa sistem politik memiliki konsekensi2 yang penting bagi masyarakat, yaitu keputusan otoritatif. Konsekuesi2 inilah yang saya sebut output. Bila kita menilai bahwa istem2 politik tidak mempunyai output yang penting bagi masyarakat, barangkai kita tidak akan tetarik untuk menelitinya.
            Untuk menjamin tetap bekerjanya suatu sistem diperlukan ipur2 secara ajeg. Tanpa imput sistem itu tidak akan dapat berfungsi, tanpa output kita tidak dapat mengidentifikasikan pekerjaan ynag dikerjakn oleh sistem itu. Dlam hal ini ynag perlu dteliti lebih lanjut adalah bagaimana mengidentifikasikan imput2 dan kekuatan2 yang mebentuk dan merubah imput2 itu, mrnrlusuri proses2 yang mentransformasikan imput2 itu menjadi output2, menggambarkan kondisi2 umum yng dapat memelihara proses2 itu, dan menarik hubungan antara output2 dengan input2  berikutnya dalam sistem tersebut.
             Dari sudut pandang ini, banyak yang dapat dijelaskan mengenai bekerjanay asuatu sistem politik bila kita memperhatikan fakta bahwa banyak hal yang terjadi didalam suatu sistem merupakan akibat dari upaya angota2 sitem tersebut untuk menanggapi lingkungnya yang selalu berubah. Kita denganm mudah dapt memahami ini bila kita memperhatikan suatu sistem biologis yangkita kenali seperti organisme tubuh manusia. Organisme ini selalu menerima tekanan dari lingkunganya dan dengan keadan lingkungan itu. Sudah tentu bahawa sebagian, cara bekerja organisme tubuh merupakan tanggapanya terhadap kebutuhan2 yang dituntut oleh ahkekat anatomis dan fungsi daam dirinya, tetapi sebagaiaan besar, dalam rangka memahami strukturnya maupun bekerjanayaa tubuh manusia.
            Perilaku setiap sistem politik, seperti halnya organisme tubuh manusia tersebut, sampa tingkat tertenntu juga merupakan tenggapan terhadap struktur dan kebutuhan2 unternalnya sendiri. Tetapi perilakunya itu  juga mend=cerminkan tanggapan terhadap tekanan2 dari lingkungan tempat sistem itu bekerja. Bisa diperdebakan bahawa sebagian besar perubahan2 penting dalam suatu sistem poliyik berasal dari perubahan2 diantara variabel 2 eksternalnya.

3.      Diferensisai Dalam Suatu Sistem.
            Seperti akan kita liahat nanati, laingkunagn itu akan memberikan suatu energi untuk mengaktifkan suatu sistem serta informasi tentang arah penggunaan enerji. Dengan cara ini suatu sistem dapat melakukan pekerjaanya. Dan sistem iyu mengahasilkan suatu jenis output yang berbeda dengan input yang diperolehnya dari lingkunganya. Sehingga kita bisa memakainya sebagai hipotesa bahwa bila suatu sistem politik harus menjalankan suatu pekerjaaan yang bermacam2 tetapi dala waktu terbatas, maka strutur2nya harus mengenal diferensi minimal. Kenyataanya, secara empiris tidak mungkin ditemukan suatu sistem politik dimana unit2nya mengerjakan kegiatan2 yang sama pada wakt yang sama. Angota2 dari suatu sistem paling tidak mengenal pembagian kerja minimal ynag memberikan suatu strutur tempat berlangsungnya kegiatan2 itu.

4.      Integrasi Dalam Suatu Sistem.
            Fakta tentang diferensiasai ini membukakan suatu wilayah yang luas bagi penelitian sistem2 politik. Diferensissi struktura ini mengatur kekuatan2 yang selalu berubah yang secara potensial merusakkan integrasi sistem itu. Bila dua atau beberapa unit2 sedang melakukan kegiatan2 ini bisa mengahsilkan suatu artikulasi ynagberarti bila anggota 2 sistem teratur dan tidak tertib dalam menghasikan output yang tidak menyangkut kepentingan kita? Kita dapat mengajukan hipotesa bahwa bila suaatu sistem berstruktur ingin mempertahankan dirinya, sistem itu harus memiliki mekanisme yang bisa mengintergasi atau memaksa anggota 2nya untuk bekerja walaupun dalam kadar minimal sehingga mereka dapat membuat keputusan2 yang otoritatif.

II.                 Input: tuntutan
Adan 2 jenis pokok imput2 suatu sistem politik: yaitu tuntutan dan dukungan. Imput2 inilah yang memberikan bahan mentah atau informasi yang harus diproses oleh sistem itu, dan juga enerji yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup sistem itu.
Alasan mengapa suatu sistem politik terbentuk dalam suatu masyarakat yaitu, mengapa orang melibatkan didri dalam keggiatan politik, adalahadanya tuntutan2 dari orang2 atau kelompok2 dalam masyarakat tersebut yang tidak semuanya dapat dipenuhi dengan memeuaskan. Ada suatu fakta yang mendominasi kehidupan politik semua masyarakat: yaitu kelangkaan akan sebagian besar hal2 atau benda2 yang bernilai tinggi. Bebrapa dari tuntutan akan hal2 yang relatif langka itu tidak pernah masuk dalam sistem politik sebelum dipenuhi mealui perundingan2 peribadi dari atau penyelesaian2 oleh orang2 yang terlibat didalamnya. Tuntutan akan prestis bisa memperoleh pemuasan melalui hubungan status di dalam masyarakat: tuntutan akan kekayaan bisa dipenuhi sebagian melalui sistem ekonomi, keinginan memiliki kekauasaan bisa diperoleh mealalui jalan pendidikan, pergaulan, organisasi buruh, atau organisasi2 swastalainya. Bila tuntutan2 atau kehendak2 dalam masyarakat maka tuntutan2 itu telah menjadi imput2 bagi sistem politik.
Penelitian yang sitematis tentang tuntutan2  mengantarkan kita untk memperhatikan beberapa pertanyaan pokok.
1.)    Bagaimana tuntutan2 itu timbul dan mendapat ciri khusus dalam suatu masyarakaat? Dalam menjawab pertanyaan ini kita dapat menunjukkan bahwa tuntutan2 itu timbul dari dua bidang pengalaman.: yaitu lingkungan disekitar sistem itu, atau didalam sistem itu sendiri. Untuk masing2 kita sebut saja tuntutan eksternal dan tuntutan internal.
Pertama mari kita liahat tuntutan eksternal. Lebih baik kita memandang lingkunagn itu bukan sebagai kumpulan kejadian2 campur baur, tetai menandanag sebagai sistem 2 yang dengan mudah bisa dibedakan satu sama lain, dan mudah pula dibedakan dengan sistem politik itu. Dalam lingkungan itu kita temui berbagai sistem seperti ekologi, ekonomi, kebudayaan, kepribadian, struktur sosisial, dan demografi. Masing2 sistem ini merupakan suatu kumpulan besar variabel2 dalam lingkungan tersebut yang membantu atau mempengaruhi pembentukan jenis tuntutan yang masuk kedalam suatu sistempolitik.
Anggota2 dalam setiap masyarakat bertindank atau bertingkah laku di dalam kerangka dari suatu budaya yang membentuk suatu tujuan2 umum maupun khusus mereka dan prosedur2 yan oleh mereka dianggap harus diterapkan untuk mencapai tujuan itu. Setiap kebudayaan mendapatkan sifat uniknya sebagian dari fakta bahwa kebudayaan itu menekankan satu apa beberpa segi perilaku khusus, dan penekanan strategis inilah yang membedakannya dari kebudayaan2 lainya dalam hal tuntutan2 yng diajukanya. Beberapa kebuadayaan sangat menekankan segi ekonomis, keberhasialan ekonomi, kebebasan individu, dan efesiensi rasional. Beberapa kebudayaan lainya menekankan pemelihraan harmoni, walaupun proses pencapaian tujuan ini berarti mengorbankan tujuan efesiensi dan rasionalitas. Beberapa yang lain menekankan mencari kekuasaan dan prestise. Kebudayaan itu mengandung patokan2 nilai dalam suatu masyarakat dan karena itu menandai batasan2 wilayah konflikpotensial, bila hal yang bernilai itu tersedia dalam jumlah lebih sedikit dibanding tuntutan yang ada. Tuntutan2 khusus yang ingin masuk kedalam proses politik harus memperhatikan maslah2 yang menimbulkan konflik yang dianggap penting oleh kebudayaan itu. Karenanya kita tidak dapat berharap bisa memahami sifat tuntutan2 yang memerlukan penyelesaian politik bila kita tidak siap menjelajahi secara sistematik dan insentif hubungan tuntutan2 itu dengan kebudayaan yang ada. Dengan beberap perubahan, kebudayaan seperti yang saya maksudkan itu berpengaruh juga pada bagian2 lain dari lingkungan disekitar suatu sistem politik.
Tetapi tidak semua tuntutan2 berasal dari, dan sebagian besar berada dalam lingkungn itu. Jenis tuntutan2 penting berasal dari situaasi ynag terjadi didalam suatu sistem politik. Dalm setiap sistem yang  berjalan, secara khas tuntutan2 bisa timbul dengan tujuan merubah hubungan2 politis di antara anggota2 itu sendiri, sebagai akibat dari ketidak puasan atas hubungan2 itu. Misalnya, dalam suatu sistem politik berdasar perwakilan, dimana perwakilan setara merupakan perwakilan diantara distrik2 pemilihan kota dan desa. Juga, tuntutan2 untuk merubah proses pengangkatan pemimpin2 politik formal, perubahan cara amandemen konstitusi, dan tuntutan lain serupa itu mungkin merupakan tuntutan2 yang merupakan perwujudan inspirasi di dalam sitem politik.
Sangat perlu bagi kita untuk membedakan tuntutan internal ini dari tuntutan eksternal karena ia bukanlah imput yang dimasukkan kedalam sistem itu tetapi merupakan sesuatu yang timbu di dalam sistem itu sendiri “Withinput”. Dan karena konsekuensi2 yang ia timbulkan terhadap ciri suatu sistem politik lebih langsung daripada yang ditimbulkan oleh tuntutan eksternal. Selanjutnya, bila kita tidak menyadari adanya perbedaan dalam kedua jenis tuntutan ini, tidak mungkin kita bissa mmeahami munculnya suatu kumpulan tuntutan2 internal, karena hanya mmeperhatikan lingkungan yang mengelilingi sistem itu saja.
2.)     Bagaiman tuntutan2 itu dirubah menjadi issue2 politik? Apa yang menentukan sehingga suatu tuntutan menjadi suatu masalah yang menimbulka diskusi politik yang serius atau tetap merupakan sesuatu yang harus diselesaikan secara pribadi diantar anggotamasyarakat sednriri? Timbulnya suatu tuntutan, baik internal maupun eksternal, tidak begitu saja akan menjadi issue politik. Bnayak tuntutan yang mati begitu diajuakan atau pengajuanya seret dan bertele2 karena hanya didukung oleh golongan masyarakat yang kurang berpengaruh dan tidak pernah bisa masukke dalam tingkt pembuatan keputusan. Sedang tuntutan yang lain mungkin menjadi issue. Jadi issue adalah suatu tuntutan yang oleh anggota2 masyarakat ditanggapi dan dianggap sebagai hal yang penting untuk dibahas melalui saluran2 yang diakui dalam sistem itu.
Pembedaan antara tuntutan dan issue menimbulkan sejumlah masalah. Bila kita ingin memahami proses perubahan tuntutan menjadi issue, kita memerlukan data lebih lanjut. Sebagai contoh, kita perlu mengetahui hubungan antar suatu tuntutan anatra satu tuntutan dengan lokasi dari pencetusnya atau pendukungnya dalam struktur kekuasaan dalam masyarakat tersebut, pentingnya kerahasiaan dibanding dengan publisitas atauketerbukaan dalam mengajukan tuntutan, maslah waktu diajuakanya tuntutan itu, pemilikan kecakapan atau pengetahuan politik, penguasaan saluran komunikasi, sikap dan suasanapemikiran masyarakat, dan gambaran yang dimiliki oleh pencetus tuntutan itu mengenai cara kerja sistem politik tertentu. Jawaban atas masalah2 ini mungkin merupakan suatu indeks pengubah atau konversi yang mencerminkan perobabilitas bagi suatu kumpulan tuntutan untuk bisa dirubah kedalam issue politik yang hidup.
Bila kita berasumsi bahwa ilmu politik terutama berkaitan dengan maslah cara pembuatan2 keputusan yang otoritatif dalam suatu masyarakat, maka tuntutan2 itu memerlukan perhatian khusus sebagai jenis imput utama bagi sistem politik. Telah saya nyatakan bahwa tuntutan mmepengaruhi perilaku suatu sistem dalam berbagai cara. Tuntutan itu merupakan suatu bagian penting dari bahan dasar yang diperlukan untuk bekerjanya suatu sistem. Tuntutan itu merupakan salah satu sumber timbulnya perubahan dalamsistem politik, karena berubahnya lingkungan menyebabkan timbulnya enis2 imput-tuntutan yang baru. Juga, tanpa mmeperhatikan asal-usul dan faktor2 penentu tuntutan kita akan mengalami kesulitan untuk menelaah bekerjanya suatu sistem politik pada saat tertentu maupun perubahan2 yang dialami suatu sistem politik dalam suatu interval waktu tertentu. Baik, sifat statik maupun dinamik historik dari suatu sistem politik bergantung pada pemahaman yang terperinci tentang tuntutan2 yang ada, terutama pengaruh lingkungan luar sistem politik terhadap tuntutan2 itu.

III.               input: dukungan
imput2 berupa tuntutan saja tidak memadahi untuk keberlangsungan kerja suatu sistem politik. Input tuntutan itu hanyalah bahan dasar yang dipakai untuk membuat produk akhir, yang disebut keputusan. Untuk tetap menjaga keberlangsungan fungsinya, sistem itu juga mmeerlukan enerji dalam bentuk tindakan2 atau pandangn2 yang memajukan dan merintangi suatu sistem plitik, tuntutan yang timbul di dalamnya, dan keputusan2 ynag diahasilkannya ynag disebut (Support). Tanpa dukungan, tuntutan tidak akan bisadipenuhi atau konflik mengenai tujuan tidak akan terselesaikan. Bila tuntutan ingin ditanggapi, anggota sistem yang memperjuangkan menjadi keputusan yang mengikat dan mereka yang ingin mempengaruhi proses yang relevan harus mamapu memperoleh dukungan dari pihak2 laindalam sistem tersebut. Berapa banyak dukungan itu, dari beberap banyak anggota sistem politik dan anggota yang mana, merupakan pertanyaan2 pentinng yang hendak diahas dengan singkat.
Apa yang kita maksud dengan dukungan? Kita dapat mengatakan bahwa A mendukung B bila A bertindak demi atau bersikap menyetujui tujuan2, kepentingan2, dan tindakan2 B. Dengan demikian tingkah laku mendukung ada dua macam. Tingkah laku itu mungkin berwujud tindakan2 yang mendorong pencapaian tujuan, kepentingan, dan tindakan orang lain. Mungkin berujud memberikan suara yang mendukung pencalonan seseorang pemimpin dalam pemilihan umum, atau membela atau mempertahankan suatu keputusan yang dibuat oleh badan yang berwenang. Dalam kasus2 ini, dukungan menyatakan diri dalam bentuk tindakan nyata dan terbuka (overt action).
Sebaliknya, tingkah laku mendukung itu mungkin tidak berujud tindakan yang nampak nyata dari luar, tetapi merupakan tindakan bentuk2 tngkahlaku “batiniah” yang kita sebut pandangan atau suasana pikiran. Menurut pemikiran saya, suasana pikiran yang mendukung (supporttive) merupakan suatu kumpulan sikap2 atau kecenderunagn2 yang kuat, atau suatu kesediaan untuk bertindak demi orang lain. Hal ini terkesan jelas bila kita mengatakn bahwa seseorang setia pada partai tertentu, terikat pada demokrasi, atau bersemangat patriotis. Istilah2 ini jelas menunjuk padasuatu suasana perasaan seseorang tersebut. Dalam tingkat ini memang tidak ada tindakan nyata atau terbuka, tetapi implikasinya jelas bahwa seseorang itu akan melakukan suatu tindakan yang searah dengan sikap itu.
Suasana pemikiran yang bersifat mendukung merupakan imput vital bagi bekerjanya dan pemeliharaan suatu sistem politik. Misalnya, sering dikatakan bahwa perjuangan dialam lingkungan politik internasional melbatkan juga usaha menguasai atau mempengaruhi pemikiran orang2 yang menjadi sasaranya. Sampai suatu tingkat tertentu, ini memang benar. (berupa uasaha2 propaganda dari suatu sistem politik untuk mempengaruhi pemikiran anggota2 sistem politik lain, dan yang semacam itu-Editor). Bila anggota2 suatu sistem politik mengikatkan diri secara erat pada sistemnya atau atau tujutuan2 sistemnya itu, keungkinan bahwa mereka akan berpartisipasi dalam kegiatan politik domestik maupun internasional yang bisa merusak sistemnya sendiri dapat dicegah seminimal mungkin, oleh suatu faktor kuat berupa suasana pemikiran yang mendukung itu. Bahkan dalam menghadapi provokasi yang gencar dan besar2an, suasana pemikiran yang menekankan kesetiaan pada sistem itu dapat dihadapkan menjadi benteng yang tangguh.
Ntuk lebih memahaminya kita perlu mengidentifikasikan mekanisme2 khusus yang menanamkan dan secara ajeg memperkuat sikap2 mendukung di dalam suatu sistem politik. Tetapi sebelumnya marilah kita perinci dan kita teliti sasaran2 politik dalam kaitan dengan usaha memperluas dukungan dalam duatu sistem polittik.
(1.) Wilayah dukungan
Dukungan dimasukkan ke dalam sistem politik dan mengarah pada tiga sasaran: komunitas, rejim, dan pemerintah. Di antara ketiganaya ini harus terdapat konvergensi atau kesatuan sikap, pendapat maupun kehendak. Marilah kita teliti sasaran itu satu-satu.
a.       Komunitas Politik. Tidak satu pun sistem politik yang dapat terus melangsungkan kerjanya kalo anggota2nya tidak bersedia mendukung eksistensi satu kelompok yang berusaha menyelesaikan perbedaan2 atau mendorong pembuatan keputusan2 melalui tindakan2 bersam secara damai. Hal ini sedemikian jelas yang biasnya disebut pertumbuhan kesatuan nasional,sehingga sering kurang diperhatikan, padahal kesatuan itulah yang merupakan prasyarat kelangsungan hidup sistem politik. Untuk gejala ini kita bisa membahas komunitas politik. Pada tingkat dukungan seperti ini, kita tidak mmeperhatikan apakah ada suatu pemerintahan atau apakah terdapat kesetiaan pada suatu tertib konstitusional atau tidak. Untuk saat ini kita hanya mmepertanyakan apakah anggota2 kelompok yang kita selidiki cukup kita berorientasi kesesama angggota satu sama lain dalam menyumbangkan tenaga kolektif mereka demi mencapai penyelesaian secara damai tuntutan2 mereka yang saling berbeda...
b.      Rejim. Dukungan bagi suatu sistem politik juga membantu mmeberikan sumber tenaga untuk tetap bekerjanya sistem tersebut. Segi dari sistem ini saya sebut rejim. Rejim ini terdiri dari semua pengaturan yang mengatur cara menangani tuntutan yang dimasukkan kedalam sistem tersebut dan  cara melaksanakan keputusan. Ini semua adalah yang biasa disebut sebagai “aturan permainan”, dan yang dipakai oleh sebagian besar anggota sistem tersebut sebgai ukuran untuk menilai sah-tidaknya tindakan anggota2 sistem. Tanpa suatu kesatuan sikap dalam dukungan terhadap aturan2 dasar ini yang dalam masyarakat barat disebut azas-azas konstitusional tidak mungkin dicapai keselarasan tindakan2 anggota2 suatu sistem untuk menyelesaikan masalah2 yang timbu akibat dukungan mereka terhadap suatu komunitas politik. Kenyataan adanya usaha untuk menyelesaikan tuntutan2 secara bersama menunjukkan bahawa tentu ada azas2 yang sudah diketahui yang mengatur bagaimana dan di mana penyelesaian tuntutan2 yang berbeda harus dilakukan.
c.       Pemerintah. Bila suatu sistem politik ingin memeiliki kemapuanuntuk menangani tuntutan2 yang saling bertentangan yang dimaskukkan kedalamnya, bukan hanya anggota2nya harus bersedia mendukung penyelesaian konflik2 ini secara bersama dan harus memiliki konsesus tentang aturan permaianan dalam penyelesaian konflik2 itu, tetapi anggota2 sistem itu juga harus bersedia mendukung suatu pemerintahan yang melaksanakan tugas2 kongkrit menyelesaikan konflik2  itu. Bila kita meneliti output dari suatu sistem, kita akan melihat ganjaran (rewards) yang bisa diperoleh oleh suatu pemerintahan untuk mengerahkan dukungan. Di sisni saya hanya ingin mengarahkan perhatian pada adanya kebutuhan suatu pemerintah akan dukungan apabila ia ingin memilih kemampuan untukmmembuat keputusan berdasarkan tuntutan2 yang dianjurkan kepadanya. Sudah tentu, suatu pemerintah dapat menarik dukunagan dengan berbagai cara: melalui bujukan, persetujuan, dan manipulasi. Pemerintah bisa juga memaksakan penyelesaina2 atas tuntutan2 sekalipun tidak mendapat dukungan, yaitu dengan  ancaman penggunaan kekuatan kekerasan. Tetapi sudah menjadi aksioma ilmu politik bahwa sutau pemerintahan yang didasarkan atas penggunaan kekerasan semata2 tidak akan dapat bertahan lama dalam dunia seperti sekarang ini, suatu pemerintah harus membuat landasan bagi posisinya dengan menciptakan suatu suasana pemikiran yang mendukung dikalangan warganegaranya.
Kenyataan bahwa dukungan yang diarahkan pada suatu sistem politik secara konseptual dapat diperinci dalam tiga unsur – yaitu dukungan bagi komunitas, rejim, dan pemerintah. Sudah tentu tidak berarti bahwa dalam kasus konkrit dukungan bagi masing2 sasaran itu saling tidak tergantung. Bisa saja, dan umumnya kita menemui, ketiga jenis dukungan itu berkaitan demikian erat sehingga adanya salah satu jenis dukungan itu merupakan akibat dari adanya satu atau dua jenis dukungan lain.

(2.) Kualitas dan ruang-lingkup dukungan
Berpa banyak dukungan  yang dierlukan oleh suatu sitem dan berap abnyak anggota sistem yang dibutuhakan untuk memberikan dukunagn bila suatu sistem ingin memiliki kemmapuan untuk melakukan pekerjaan merubah tuntutan2 menjadi keputusan2? Tidak ada jawaban sederhana yang dapat dieberikan. Situasi aktual dalam setiap kasus akan menemukan jumlah dan ruang lingkup (scope) yang diutuhkan iu. Tetapi kita bisa menggambarkan sejumlah situasi yang bisa membantu mengarahkan perhatian kita kegeneralisasi2 yang mungkin dibuat.
Dalam keadan2 tertentu sangat sedikit anggota2 sistem yang merasa perlu mendukung suatu sistem. Anggota2 itu mungkin bodoh dan apatis, tidak peduli dengan keseluruhan kerja sistem itu, tidak peduli dengan segala keputusan yang dihasilkan sistem itu. Dalam suatu sistem yang ikatanya longgar seperti yang dimiliki india, sebagian besar anggota sistemnya memiliki suasan apemikiaran sepwrti ini. Baik karena naytanya mereka memang tidak terpengaruh dengan keputusan politik nasional maupun karena tidak merasa terpengaruh oleh keputusan itu. Mera mungkin memiliki sedikit sekali rasa identifikasi dengan rejim, dan pemerintahan yang ada sehingga, dalam hal imput tuntutan, sistem itu bisa menjalankan suatu tindakan berdasar dukungan yang diberikan hanya 3 persen politisi dan intelektual berorientasi –barat yang aktif dalam kehidupan politik. Dengan lain perkataan, kita bisa saja menemui suatu sistem diamana suatu kelompok minoritas kecil bisa memeberikan tenaga pendukung yang secara kuantitatif cukup uuntuk memelihara kehidupan dan bekerjanya sistem itu. Tetapi kita dapat mengajukan hipotesa bahwa di mana anggota2 dari suatu sistem memasukkan sejumlah besar tuntutan, terdapat probabilitas kuat bahwa mereka akan secara aktif memberikan dukungan atau penentangan kepada salah satu dari ketiga tingkatan sistem itu, bergantung pada derajad pemenuhan tuntutan2 ittu melalui keputusan2 yang tepat.
Sebaiknay, kita juga bisa menemukan suatu sistem dimana semua anggotanya memberikan dukungan, tetapi jumlah dukungan itu begitu kecil sehingga mengancam kehidupan salah satu atau semua segi sistem. Barang kali dalam hal ini prancis dijaman moderen merupakan contoh yang klasik. Imput dukungan pada tingkat komunitas politik mungkin memadahi untuk memelihara dan mempertahankan prancis sebagai salah satu unit politik nasional. Tetapi berdasr pengalaman negeri itu selama ini, terdapat keraguan bear tentang apakah anggota2 sistem politik prancis selama ini memberikan sesuatu kecuali tingkat dukungan yang rendah pada rejimnya atau setipap pemerintahan yang ada. Jumlah dukungan yang sangat kecil, walaupun ruang lingkupnaya meluas kesebagian besar penduduk, menyebabkan sistem politik prancis berdiri pada landasan yang kurang kokoh dibanding dengan kasus di india di atas. Di india dukungan yang sangat kecil memiliki ruang lingkup lebih kecil dan kuarang meluas dibanding dengan sistem prancis tetapi jelas lebih aktif atau lebih besar kuantitas dukunagan yang diberikan oleh kelompok minoritas itu. Demikian contoh ini menunjukkan, bahwa jumlah dukungan tidak mesti seimbang dengan luas ruang laingkupnaya.
Dari pembahasan diatas namapak bahwa walaupun anggota2 dari suatu sietem politik bisa memberikan dukunga atau pun tidak memberikan dukungan, artinya menujukkan penentangan atau apatis, nyatanya anggota2 itu bisa, dan bisanya memang, secara serempak terlibat dalam tingkah laku mendukung maupun menentang. Yang harus kita perhatikan adalah neraca perimbangan dukungan itu.






[1] Perbandingan sistem politik, mohtar mas’oed dan colin mac andrews. Gajah Mada University Press, 1993 Yogyarta (cetk ke-12 1993)
[2] Diambil dari David Easton, “An Approach to the Analysis of Political Systems”, dalam  World Politics, Volumme IX, 3(April 1957)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar