Manusia memiliki potensi yang tak kenal diam.
Pikiran.
Dalam kehidupan ini, waktu adalah sebuah benteng yang kokoh
meskipun tak nampak. Namun ia akan memberikan batasan bagi semua makluk di
dunia ini, sehingga mereka semua selalu bekejaran dengan waktu dan islam
memberikan waktu bagi manusai dalam ketaatan pada Robb-Nya, ia akan
tercampakkan oleh waktu jika ia terlena, ia akan hancur oleh waktu jika tidak
memanfaatkanya. Yaaa, karena waktu sellau berjalan dan bergerak tak kan ernah
berhenti sampai nanti menemui garis akhir, kiamat dan yaumul hisab.
Bukan hanya waktu yang memiliki tabiat terus berjalan. Pikiran
manusia pun demikian. Tak ada pikiran manusia yang stagnan atau diamsaat
terjaga. Ia pasti menjelajah, ia mengembara atau memikirkan hal-hal yang disengaja
ataupun tidak. Jika kita secara sadar tidak menggunakan pikiran kita untuk
memikirkan keagungan penciptaan Alloh Azza Wa Jalla, merenungkan ayat-ayat
Qur’aniyah, merencanakan hal-hal yang bisa mendatangkan maslahat dunia dan
akhirat, menghafal dan menganalisa ilmu-ilmu yang bermanfaat dan semisalnya,
maka pikiran akan tetap sanja ‘bergebtayangan’. Secara reflek akan hadir
lintasan-lintasan pikkiran. Apakah berupa lamunan dan khayalan, atau bisa jadi
berupa cetusan ide buruk yang besar kemungkinan dibisikkan oleh syetan.
Allah berfirman:
“dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh,
yaitu syetan-syetan (dari jenis) manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan
kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan (ide) yang indah-indah untuk
menipu (manusia)”. (QS.al-An’am:112)
Padahal, bermula dari cetusan dan lintasan pikiran manusia bergerak
dan berbuat. Jika yang terlintas dalam pikiran adalah suatu kebaikan,
keutamaan, kemanfaatan, maka hasilnya adalah perbuatan yang mendatangkan kemaslahatan,
begitupun sebaliknya. Karenanya, ulama klasik Abul Wafa Ali Ibnu Uqil, penulis
kitab Al-Funuun selalu mengarahkan pikiranya kepada hal-hal yang bermanfaat.
Beliau mngatakan, “sesungguhnya aku tak ingin membiarkan diriku
membuang-buang waktu meski hanya sesaat dalam hidupku. Sampai-sampai apabila
lidahku berhenti ber dzikir atau berdiskusi, pandangan mataku juga berhenti
membaca, segera aku mengaktifkan pikiranku kala beristirahat sambil berbaring.
Ketika aku bangkit, pasti sudah terlintas sesuatu yang akan kutulis”.
{Al-Muntazham, Ibnu Al-jauzi}
Betapa pentingnya berfikir positif, hingga banyak sekali ayat-ayat
al-Qur’an yang menganjurkan kita untuk menggunakan pikiran untuk hal yang
bermanfaat. Dan banyk pula ayat yang berupa teguran, peringatan atau bahkan
celaan bagi orang yang tidak memanfaatkan pikiranya. Baik dengan kalimat “afala
ta’qiluun..., afalaa tatafakkaruun.., afalaa tubsiruun.. dan seemisalnya.
Jasad/Raga/Badan.
Potensi yyang sangat besar tersebut sangat sulit untuk diam, yakni
aktifitas jasad. Selagi ia masih hidup , sekecil apapun gerakan, pasti ia akan
beraktivitas . dan gerak – gerak itulah yang mengejawantahkan / mengekspresikan
gagasan pikiran, atau ungkapan hati dan perasaan. Dari mulai kerlingan mata,
sentuhan tangan, langkah kaki, ucapan
lisan dan anggota tubuh yang lain akan terus bergerak. Ada aktivitas yang
mendatangkan faedah, ada juga yang sekedar iseng dan ada pula bahkan aktivitas
yang merugikan diri sendiri. Cukuplah manusia dikatakan rugi jika dia tidak
sedang bergerak untuk sesuatu yang mendatangkan manfaat untuk dirinya. Kelak,
masing-masing anggota anggota badan akan diminta pertanggungjawabanya di sisi
Alloh dan masing – masing akan menjadi saksi atas apa yang telah manusia
perbuat di dunia.
Alloh berfirman:
الىؤ م نختم على افؤا ههم ؤ تكلمنا
ا ىد ىهم ؤ تشهد ا ر جلهم بما كا نؤا ىكسبؤان
“Pada hari ini kami tutup mulut mereka, dan berkatalah
kepada kami tangan mereka dan memberi
kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (QS.
Yaasin:65)
Nafsu.
Ada lagi potensi yang dimiliki manusai yang
tak pernah berhenti beraktifitas yakni nafsu. Karakter nafsu itu ‘anfasa’
selalu berhembus. Ia tak pernah netral atau diam. Jika akal sehat manusia yang
dibimbing oleh wahyu mengendalikannya, maka ia kan takluk mengikuti hembusan
menuju ketaatan. Namun jiika tudak dikendalikan, nafsu akan mencari arah
sendiri yang sesuai dengan tabiat asalnya, yakni “ان انفس لاامارت بثؤ”{inna an-nafsa la-ammaaratun},
sesungguhnya nafsu itu cenderungkepada keburukan. Atau nafsu akan diperalat
oleh setan, karen anfsu adalah ‘متهىتس سىطن‘{mathiyyatusy syaitan}, kendaraan
setan untuk masuk ke dalam hati manusia dan mengobrak-abrik kekayaan iman di
dalamnya.
Maka benarlah ungkapan, “nafsu itu jika
anda tidak menyibukkan ia dengan
kebaikan, maka nafsu akan menyibukkan
anda dengan kemaksiatan”.
Maka, kata kunci bagi kesuksesan manusia
dalam hal ilmu, kemampuan, kebahagiaan dunia maupun akhirat tergantung
bagaimana menggunakan segala potensi yang terus berjalan dan tak kenal diam.
Perolehan akhirnya sepadan dengan usahanya dalam memanfaatkan waktu,
mengerahkan pikiran, memberdayakan tenaga dan bagaimana kegigihanya dalam
mengendalikan nafsu yang terus aktif bergerak. Semoga Alloh memasukkan kita ke
dalam golongan orang –orang yang beruntung.
Kata mutiara:
JIKA WAKTU TIDAK DIGUNAKAN
UNTUK
HAL – HALA YANG BERMANFAAT
DAN BERNILAI TAAT
MAKA WAKTU MENYEDIAKAN
PELUANG UNTUK MAKSIAT.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar