Rabu, 19 April 2017

potensi yang dimili manusia

Manusia memiliki potensi yang tak kenal diam.

cinta alloh

Pikiran.
Dalam kehidupan ini, waktu adalah sebuah benteng yang kokoh meskipun tak nampak. Namun ia akan memberikan batasan bagi semua makluk di dunia ini, sehingga mereka semua selalu bekejaran dengan waktu dan islam memberikan waktu bagi manusai dalam ketaatan pada Robb-Nya, ia akan tercampakkan oleh waktu jika ia terlena, ia akan hancur oleh waktu jika tidak memanfaatkanya. Yaaa, karena waktu sellau berjalan dan bergerak tak kan ernah berhenti sampai nanti menemui garis akhir, kiamat dan yaumul hisab.

Bukan hanya waktu yang memiliki tabiat terus berjalan. Pikiran manusia pun demikian. Tak ada pikiran manusia yang stagnan atau diamsaat terjaga. Ia pasti menjelajah, ia mengembara atau memikirkan hal-hal yang disengaja ataupun tidak. Jika kita secara sadar tidak menggunakan pikiran kita untuk memikirkan keagungan penciptaan Alloh Azza Wa Jalla, merenungkan ayat-ayat Qur’aniyah, merencanakan hal-hal yang bisa mendatangkan maslahat dunia dan akhirat, menghafal dan menganalisa ilmu-ilmu yang bermanfaat dan semisalnya, maka pikiran akan tetap sanja ‘bergebtayangan’. Secara reflek akan hadir lintasan-lintasan pikkiran. Apakah berupa lamunan dan khayalan, atau bisa jadi berupa cetusan ide buruk yang besar kemungkinan dibisikkan oleh syetan.
Allah berfirman:

dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan (dari jenis) manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan (ide) yang indah-indah untuk menipu (manusia)”. (QS.al-An’am:112)

Padahal, bermula dari cetusan dan lintasan pikiran manusia bergerak dan berbuat. Jika yang terlintas dalam pikiran adalah suatu kebaikan, keutamaan, kemanfaatan, maka hasilnya adalah perbuatan yang mendatangkan kemaslahatan, begitupun sebaliknya. Karenanya, ulama klasik Abul Wafa Ali Ibnu Uqil, penulis kitab Al-Funuun selalu mengarahkan pikiranya kepada hal-hal yang bermanfaat. Beliau mngatakan, “sesungguhnya aku tak ingin membiarkan diriku membuang-buang waktu meski hanya sesaat dalam hidupku. Sampai-sampai apabila lidahku berhenti ber dzikir atau berdiskusi, pandangan mataku juga berhenti membaca, segera aku mengaktifkan pikiranku kala beristirahat sambil berbaring. Ketika aku bangkit, pasti sudah terlintas sesuatu yang akan kutulis”. {Al-Muntazham, Ibnu Al-jauzi}

Betapa pentingnya berfikir positif, hingga banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang menganjurkan kita untuk menggunakan pikiran untuk hal yang bermanfaat. Dan banyk pula ayat yang berupa teguran, peringatan atau bahkan celaan bagi orang yang tidak memanfaatkan pikiranya. Baik dengan kalimat “afala ta’qiluun..., afalaa tatafakkaruun.., afalaa tubsiruun.. dan seemisalnya.

Jasad/Raga/Badan.
Potensi yyang sangat besar tersebut sangat sulit untuk diam, yakni aktifitas jasad. Selagi ia masih hidup , sekecil apapun gerakan, pasti ia akan beraktivitas . dan gerak – gerak itulah yang mengejawantahkan / mengekspresikan gagasan pikiran, atau ungkapan hati dan perasaan. Dari mulai kerlingan mata, sentuhan  tangan, langkah kaki, ucapan lisan dan anggota tubuh yang lain akan terus bergerak. Ada aktivitas yang mendatangkan faedah, ada juga yang sekedar iseng dan ada pula bahkan aktivitas yang merugikan diri sendiri. Cukuplah manusia dikatakan rugi jika dia tidak sedang bergerak untuk sesuatu yang mendatangkan manfaat untuk dirinya. Kelak, masing-masing anggota anggota badan akan diminta pertanggungjawabanya di sisi Alloh dan masing – masing akan menjadi saksi atas apa yang telah manusia perbuat di dunia.
Alloh berfirman:
الىؤ م  نختم على افؤا ههم ؤ تكلمنا ا ىد ىهم ؤ تشهد ا ر جلهم بما كا نؤا ىكسبؤان
Pada hari  ini kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada kami tangan  mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (QS. Yaasin:65)


Nafsu.
Ada lagi potensi yang dimiliki manusai yang tak pernah berhenti beraktifitas yakni nafsu. Karakter nafsu itu ‘anfasa’ selalu berhembus. Ia tak pernah netral atau diam. Jika akal sehat manusia yang dibimbing oleh wahyu mengendalikannya, maka ia kan takluk mengikuti hembusan menuju ketaatan. Namun jiika tudak dikendalikan, nafsu akan mencari arah sendiri yang sesuai dengan tabiat asalnya, yakni  “ان انفس لاامارت بثؤ”{inna an-nafsa la-ammaaratun}, sesungguhnya nafsu itu cenderungkepada keburukan. Atau nafsu akan diperalat oleh setan, karen anfsu adalah ‘متهىتس سىطن‘{mathiyyatusy syaitan}, kendaraan setan untuk masuk ke dalam hati manusia dan mengobrak-abrik kekayaan iman di dalamnya.

Maka benarlah ungkapan, “nafsu itu jika anda tidak menyibukkan  ia dengan kebaikan, maka nafsu akan menyibukkan  anda dengan kemaksiatan”.

Maka, kata kunci bagi kesuksesan manusia dalam hal ilmu, kemampuan, kebahagiaan dunia maupun akhirat tergantung bagaimana menggunakan segala potensi yang terus berjalan dan tak kenal diam. Perolehan akhirnya sepadan dengan usahanya dalam memanfaatkan waktu, mengerahkan pikiran, memberdayakan tenaga dan bagaimana kegigihanya dalam mengendalikan nafsu yang terus aktif bergerak. Semoga Alloh memasukkan kita ke dalam golongan orang –orang yang beruntung.

Kata mutiara:
JIKA WAKTU TIDAK DIGUNAKAN UNTUK
HAL – HALA YANG BERMANFAAT DAN BERNILAI TAAT
MAKA WAKTU MENYEDIAKAN

PELUANG UNTUK MAKSIAT. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar